Header Ads

Pandji: Benar itu relatif, Baik itu Mutlak

Pandji Pragiwaksono, stand-up comedian senior yang sudah berkeliling dunia sebagai 'Juru Bicara' pada 2016 lalu, membahas apa itu relatif. Ia yakin bahwa benar itu relatif sementara baik itu mutlak.

Dalam tulisan di website pribadinya (pandji.com), yang berjudul 'Benar itu relatif, Baik itu Mutlak', ia mengingatkan bahwa setiap kericuhan yang terjadi hanya karena kebenaran. Adalah kebenaran yang begitu 'keras kepala' dipertahankan sehingga terjadi peperangan.

"Tahu nggak apa penyebab konflik terbesar diseluruh dunia?" tanya Pandji kepada pembaca.

Jawabannya adalah "Kebenaran" begitu tulisnya.

Pandji Pragiwaksono (source: genmuda.com)


"Perang dunia I dan II terjadi karena masing masing membela apa yang benar bagi mereka. Konflik keagamaan juga terjadi karena masing masing membela apa yang benar bagi mereka. Elo berantem sama pacar lo karena masing masing merasa benar"

"Bos elo ngamuk ke elo, elo mendendam dalam hati, karena masing masing merasa benar"

"Kita berteriak teriak bilang kebudayaan kita dicuri, mereka sibuk ngeles dan nuding balik bahwa lagu Indonesia Raya juga tidak orisinil karena semua merasa kebenaran yang mereka yakini dipertanyakan."

"Gandhi ditembak karena ada yang merasa Gandhi sudah berjalan ke arah yang salah"

"Hitler yakin dirinya benar, dunia merasa sebaliknya
Richard Nixon punya keyakinan bahwa apapun yang salah jadi benar kalau dilakukan oleh presiden"

"Kebenaran Kebenaran Kebenaran" dalam hal ini Pandji menuliskannya tiga kali untuk menekankan sumber masalah sebenarnya.

Menurutnya, kebenaranlah yang dibela sampai titik darah penghabisan oleh semua orang di dunia. "Sedih," kata Pandji.

Andai saja kita tahu bahwa BENAR itu selalu relatif.

"Tergantung dari sudut pandang siapa
Tergantung pada jaman."

"Contoh: Dulu dunia meyakini bumi adalah pusat dari tata surya. Dulu. Itu benar. Hingga Copernicus menguatkan Galileo Galilei."

"Dulu, manusia tidak bisa terbang. Benar. Hingga ada pesawat. Dulu ke Bandung nggak mungkin 1,5-2 jam. Benar. Hingga ada tol Cipularang.
Things change, facts shifted and with it, reality changes."

"Apa yang dulu benar sekarang salah, apa yang dulu salah sekarang benar."

"Kalau kita nyetir sebuah mobil merah, kita suka ngomel kepada mobil biru yang nglakson kita dari samping kemudian menyalip mobil kita. Tapi kalau kita duduk di dalam mobil biru tersebut, kita akan kesal karena mobil merah itu lelet dan ga jelas nyetirnya… maka kita klakson dan kita salip mobil tersebut."

Get it?

Kebenaran itu selalu relatif.
Yang mutlak, adalah KEBAIKAN.

"Baik itu mutlak," kata Pandji kembali menekankan.

Bayangkan… Apa jadinya dunia, ketika konflik terjadi, dan mereka sadar sudah muncul konflik diantara mereka, lalu mereka BERHENTI mengejar kebenaran dan langsung melakukan apa yang BAIK untuk dilakukan dalam kondisi seperti ini…

Mengejar kebenaran akan membawa kepada konflik. Merelakan kebenaran untuk mendapatkan kebaikan akan membawa kedamaian.

(Emot senyum)
"Damai untuk Indonesia"

Pesan dari Pandji: Gue takut kita terlalu sibuk ngurusin Malaysia nyuri ini, Malaysia menyiksa si ini, Malaysia menghina ini, Malaysia menghina ini, kita jadi lupa untuk melakukan sesuatu yg nyata untuk Indonesia.


For the 1st time in My life, I hope im wrong…

======
Hal itu terkait masifnya keributan antara Malaysia dan Indonesia di internet. Saat itu negara tetangga membuat keributan dengan video 30 detiknya.

Dalam video itu, ditayangkan tari khas Bali, Pendet. Apalagi video itu bertujuan untuk iklan 'Enigmatic Malaysia' di Discovery Channel. Hal itulah yang menyulut emosi sebagian masyarakat Indonesia.
======

Sumber: Berdasarkan tulisan yang diunggah Pandji Pragiwaksono pada 29 Agustus 2009 di Pandji.com. Klik http://pandji.com/benardanbaik/

No comments