Header Ads

Kota Nan Madol yang Diduga Sebagai Atlantis

Nan Madol, kerap disebut sebagai mitos Atlantis oleh para arkeolog. Dibangun di terumbu lepas pantai Pulau Pohnpei, Negara Federasi Mikronesia, misteri kota tua tua ini belum terpecahkan. Tanpa fondasi tanah, tempat ini berhasil dibangun di atas batu dan karang oleh manusia.

Sejarahnya panjang dan mempesona. Meski berukuran kecil, pulau ini menyimpan banyak rahasia.

Nan Madol (source: google.com)

Nan Madol dapat diartikan "ruang di antara". Maksudnya, tempat ini bisa jadi saluran menuju 92 pulau kecil yang mengelilinginya .

Namun berbeda artinya jika menurut buku "Pohnpei, An Island Argosy" karya Gane Ashby. Nama awal pulau itu menjadi Soun Nan-leng yang artinya "Terumbu sungai".

Berada di tengah laguna, tempat ini begitu indah dengan pulau-pulau kecilnya. Paduan bangunan dan air sebagai jalannya, membuat kota seluas 1,6 km dan 0,8 km pun dijuluki "Vanesia-nya Pasifik". Struktur di pulau ini dibangun menggunakan batu yang terpola sehingga terlihat besar bak raksasa.

Menurut legenda, para ahli sihirlah yang mengangkat batu-batu raksasa di tempat ini dengan bantuan seekor naga terbang. Ketika salah satu penyihir meninggal, terbentuklah Dinasti Saudeleur. Penyihir yang tersisa menikahi seorang gadis desa setempat dan mereka berdua menghasilkan penguasa masa depan dinasti tersebut.

Dinasti Saudeleur sendiri ada pada 1100-1628. Namun tempat ini dikisahkan sudah ada lebih awal, yakni pada Abad ke 1 Mashehi, hingga tujuh abad kemudian kota berkembang, dan kembali ditingkatkan antara 1200 Masehi.

Kepercayaan tradisional menyebutkan tempat itu telah dibangun oleh orang yang juga membangun Leluh, yakni sebuah kota tua di dekat pulau Lelu, Federasi Mikronesia. Namun hal itu dipatahkan karena peninggalan karbon terbaru menunjukkan bahwa Nan Madol lebih tua dari Leluh.

Adapun pembangunan wilayah di Nan Madol cukup adil. Mayoritas pulau kecil di sana digunakan untuk keperluan perumahan, kamar mayat, sampai tempat makanan. Adapun di tengahnya, berdiri Royal Mortuary yang dikelilingi oleh tembok setinggi 26 kaki.

Menurut para ilmuwan, ada kurang dari seribu warga yang tinggal. Populasi utama terdiri dari penduduk desa dan sejumlah besar kepala suku.

Dua penyihir bernama Olosohpa dan Olisihpa pun membentuk kota bernama Kanamwayso. Kota itulah yang menjadi tempat mereka beribadah kepada tuhan pertanian, Nahnisohn Sahpw.

Selama bertahun-tahun, Nan Madol telah membangkitkan banyak legenda, mitos, dan kontroversi tentang Atlantis yang dibicarakan Plato. Hal ini dibandingkan dengan mitos yang telah lama hilang dari Mu, dimana peradaban manusia dikatakan telah lahir.

Batu besar itu menginspirasi teori konspirasi dan penulis seperti David Hatcher Childress dan Erich von Daeniken. Dalam bukunya "Evidence of the Gods", von Daeniken menuliskan bahwa sarkofagus yang mengandung platinum bar ditemukan di perairan Nan Madol. "Peti mati platina" ini juga yang konon ditemukan oleh orang Jepang setelah Perang Dunia I. Sayangnya, benda itu sudah tidak diketahui di mana saat ini.

Meski mengalami kemunduran panjang pada abad ke-15, tempat ini tetap berpenghuni sampai awal abad ke-19. Sudah banyak peneliti dan ilmuwan yang mengunjunginya untuk mencoba memahami sejarah dan konstruksinya. Pulau tersebut pun telah menginspirasi H.P. Lovecraft, untuk menggambarkan sebuah kota hilang fiktif, R’lyeh, yang pertama kali muncul dalam buku "The Call of Cthulhu".

No comments