Header Ads

Mengapa Saya Berhenti Bermain Sosial Media

Saya baru saja memutuskan untuk tidak bermain sosial media lagi di waktu tertentu. Dalam kurun waktu itu, saya memilih untuk mewujudkan mimpi juga janji yang belum saya tepati.

Media sosial sendiri bisa diartikan sebagai tempat orang berbagi cerita namun dalam bentuk foto, video, tulisan, atau tautan lainnya. Dalam media sosial, pengguna atau pemilik akun akan memiliki sebuah profil yang dapat diisi biodata atau apapun untuk ditampilkan ke orang lain.

sumber: jjsociallight.com 


Namun, media sosial belakangan, menurut saya, kerap menjadi bahan ajang pamer kebodohan ketimbang pamer kebaikan. Salah satunya adalah selfie ria yang banyaknya naujubila. Bukan main, seorang yang senang melakukan selfie akan terus memfoto wajahnya yang terkadang diedit sedemikian rupa dengan caption yang terkadang tak berguna.

Caption, pada umumnya berisi tentang motivasi atau kata-kata curahan hati yang membuat esensi dari selfie itu sendiri jadi hilang tak berarti. Selain itu, yang lebih parah, seseorang melakukan selfie atau mengupload foto tanpa menambahkan keterangan sama sekali. Bahkan ada yang menambahkan keterangan namun tak layak disebut keterangan, contohnya "no caption needed". Setan belanda juga ogah baca caption beleguk macam itu.

Selanjutnya, media sosial kerap jadi ajang pamer lokasi. Kebanyak mereka yang bermain media sosial, kerap memamerkan darimana atau dimana mereka berada. Ironisnya, mereka hanya memamerkan tempat tersebut dengan tambahan lokasi, namun tanpa keterangan yang berarti. Contoh, dia berfoto di bali, namun tidak ada caption sama sekali. Apa? Maksudnya apa? Pamer?

Media sosial, juga kerap menjadi ajang pornografi juga pornoaksi. Hal itu bisa dilihat dari konten yang dibagikan oleh akun-akun masal yang kadang tidak layak untuk dilihat oleh anak remaja masa kini.

Meski begitu, apakah akun-akun masal itu salah? jawabannya tidak sama sekali. Pasalnya, media sosial tidak melarang hal tersebut asalkan tak melewati batas normal. Contoh melewati batas normal, membagikan foto yang menampilkan wanita/pria telanjang bulat atau lain sebagainya. Meskipun, banyak akun yang menampilkan hal tersebut juga yang belum terdeteksi oleh admin media sosial terkait.

Selain itu, akun masal tersebut juga tidak salah karena memang batasan usia yang dianjurkan semua media sosial adalah 16-18 tahun. Dimana pada kenyataanya, menurut penelitian, lebih dari tiga perempat anak-anak berusia 10 hingga 12 tahun di Inggris memiliki akun media sosial walaupun usianya di bawah batasan.  Selain itu, di kalangan usia 13-18 tahun, sebanyak 96% memiliki akun media sosial seperti Facebook, Instagram, Snapchat, dan Whatsapp.

Ironi, media sosial. Mengerikan tampaknya, tapi itu kejadiannya. Orangtua terlalu tidak perduli dengan mainan anak-anaknya. Padahal, dari hal sekecil itu pun, seorang anak bisa terbentuk mentalnya.

Bersyukur jika mental si anak justru baik-baik saja. Namun, jika anak malah menjadi pemberontak akibat termakan motif dari akun-akun masal media sosial? Maka orangtua bisa apa?

Kembali ke alasan saya tidak bermain media sosial. Meskipun usia saya sudah menginjak 20 tahun, namun media sosial cukup mengganggu mental saya pula. Itu membuktikan, bahwa media sosial tidak mendewasakan malah menjerumuskan.

Sebagai bukti yang saya rasakan, yakni saya kerap tidak sadar telah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihat-lihat postingan di media sosial. Hal itu baru saya sadari belakangan dan jujur saja membuat waktu saya termakan dengan sia-sia.

Oleh karena itu, saya memilih untuk berhenti dan melakukan perombakan. Salah satu perombakan yang saya lakukan adalah, dengan tidak mengecek handphone disaat orang lain sedang berbicara dengan saya atau sedang bersama saya.

Saya sama sekali tidak takut akan ancaman kegagalan perencanaan jika saya tak mengecek ponsel. Hal itu karena, jika memang sangat penting, orang lain yang ingin berinteraksi dengan saya itu harus menelfon saya atau menghampiri saya, bukan menchat saya atau hanya SMS.

Kita sama-sama tahu, SMS singkatan dari short message service yang diartikan pesan singat. Dalam kata tersebut, ada kata "pesan", yang artinya bisa dibaca nanti-nanti jika sempat.

Gilanya, orang lain justru kerap marah jika "pesan" mereka tak dibaca atau dilihat. Jika seperti itu, saya pun hanya meminta maaf karena saya orang bermoral dan membalasnya dengan alasan yang masuk akal. (hms)

No comments