Header Ads

Pilihan Untuk Keputusan

Memilih. Merupakan kata yang menentukan. Menentukan apa yang akan anda ambil selanjutnya. Mungkin ada yang terbaik dan tidak baik. Tapi, semua pilihan pasti punya sisi baiknya tersendiri. Perspektif. Relatif.

Kemarin saya pergi bersama beberapa teman. Kami berencana untuk menonton film terbaru yaitu Kok Jereng 2 (red: Conjuring 2), yang katanya diambil dari kisah nyata dan seram bukan main. Setelah terencana dengan baik, kami akhirnya berkumpul dan bersiap untuk berangkat ke bioskop masing-masing. Namun karena kesamaan selera, ternyata bioskop kami sama. Ya mungkin ini yang dinamakan jodoh.

Kami sampai di tempat dan bergegas melihat-lihat. Pertama kami melihat jadwal main film yang kami ingin tonton. Namun naas, film itu sudah dipenuhi para penonton baik bapa-bapa ataupun ibu-ibu semua yang ada di situ. Kami kecewi bukan main. Ya mau dikata apa lagi?

Setelah berunding cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk menonton di lain hari dan memilih pulang ke destinasi masing-masing. Meskipun sebelumnya ada sedikit perdebatan panas antara kami akibat perbedaan pendapat. Namun hal tersebut bisa teratasi dengan kompromi.

Apa yang kita dapat dari kisah tersebut? Tidak ada sih sebenarnya. Cuman mau cerita aja. Namun, masih ada kolerasinya sedikit dengan bahasan saya kali ini.

Masa depan kita ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita buat. Kegagalan mengenal tujuan hidup akan mengakibatkan manusia terjebak di dalam kesia-siaan.

"Terserah!" Jawaban ini sering saya dengar apabila ada pertanyaan seperti ini, "Mau makan di mana?" Entah karena tidak ada yang mau bertanggung jawab atau karena malas berpikir, tetapi banyak orang cenderung mengatakan terserah sebagai jawaban. Kenyataannya mereka semua lapar dan mau makan, tetapi tidak ada yang mau mengambil keputusan. Kata 'terserah' tidak menunjukkan tujuan tertentu, yang pasti juga bukan nama sebuah restoran yang dapat segera dikunjungi. Dalam keadaan seperti ini, yang ada hanyalah membuang-buang waktu. Kalaupun kemudian, karena lapar atau karena waktu yang terus berjalan, mereka harus menjatuhkan pilihan, biasanya keputusan yang diambil bukanlah keputusan yang terbaik.

Seperti cerita saya sebelumnya pula, beberapa teman ada yang berkata "terserah" dan memilih pasrah. 'Terserah' memang jawaban paling mudah dalam masalah seperti ini, karena dengan demikian, orang lain yang harus mengambil keputusan. Kalau enggan mengambil keputusan, berarti dia memberi peluang bagi orang lain untuk menentukan pilihan atau tujuan. Dalam hal ini keputusan untuk tidak menentukan tujuan menyebabkan dia bebas dari tanggung jawab, tetapi akibatnya apa pun yang menjadi keputusan orang lain haruslah dia terima. Artinya, tujuan ditentukan atau diatur oleh orang lain. Si pengambil keputusan merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi.

Kalau saja kita tahu apa yang kita mau, maka dengan mudah kita akan menentukan tujuan kita. Tanpa perlu membuang waktu, kita akan mendapatkan yang terbaik sesuai dengan apa yang kita mau. Saya hanya ingin menggambarkan kepada Anda betapa pentingnya sebuah keputusan. Masa depan kita ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita buat. Tidak mengambil keputusan pun merupakan sebuah keputusan, dan ini berarti mengizinkan orang lain menentukan pilihannya untuk kita. Masalahnya belum tentu keputusan yang dibuat merupakan yang terbaik buat kita, dan yang sesuai dengan keinginan kita.

Masa depan kita ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita buat. Dapatkah Anda membayangkan bahwa pertanyaan ini bukan soal makanan melainkan soal kehidupan? Mau ke mana hidup Anda? Apakah tujuan hidup Anda? Apa alasan Anda hidup?

(Sumber : Permainan Cantik - Jeffrey Rachmat)

No comments