Header Ads

Jatuh Cinta Dalam Diam

Kali ini saya ingin memposting beberapa artikel dari teman sekelas saya yaitu Abdurahman Naufal. Beliau sedikit mempunyai masalah pengelihatan. Pernah suatu ketika dia menyatakan cinta kepada laki-laki akibat buruknya pengelihatannya. Namun, bukan itu yang penting. Dia begitu konsisten dalam menulis blognya dan berikut salah satu karyanya yang saya suka, dan diambil dari blognya yaitu:
http://nopalmologi.blogspot.co.id/




Sewaktu masih SMA, ada adik kelas yang bertanya sama gue lewat ask.fm, ‘Kakak suka sama siapa di sekolah ?’ Sebenernya pertanyaan itu pengin gue jawab, ‘Kepala sekolah.’ Tapi, berhubung karena kepala sekolah gue cowok, gue gak jawab itu. Gue jawab dengan simple, ‘Nanti akan gue kasih tau di blog setelah lulus SMA.’

Sebenernya tulisan ini udah gue buat dari semenjak pertanyaan itu dijawab. Tapi hanya baru beberapa tulisan, nggak gue lanjutin lagi. Karena ketika kelas tiga SMA gue sibuk belajar untuk persiapan Ujian Nasional. Mengejar materi yang masih belum gue pahami saat kelas satu dan dua.

Setelah lulus dari SMA, gue juga sibuk untuk mendaftar perguruan tinggi, kebetulan gue juga gagal terus dalam ujian, jadi waktu yang terbuang juga lumayan banyak. Harapan bebas untuk belajar pun sirna, gue harus belajar lagi setelah lulus SMA untuk tes perguruan tinggi. Beruntung, sekarang gue udah keterima di perkuliahan, jadi banyak waktu luang untuk menulis.

Ada yang nagih tulisan gue tentang 'orang yang gue suka' itu setelah gue lulus dari SMA. Maaf banget kalo gue baru bisa posting hari ini, sudah lewat beberapa bulan dari yang gue janjikan. Tapi kalo dipikir-pikir, nggak salah juga sih, kan gue janjinya cuman 'Setelah lulus SMA', jadi nggak ada tenggang waktunya. Jadi kalo gue jawab sampai kecoa bisa breakdance juga gapapa.

Ya postingan ini gue tujukan untuk adik-adik kelas gue yang bertanya, dan untuk orang yang pernah gue suka saat masih di SMA. Nama orang yang gue ceritakan di sini adalah bukan nama aslinya. Tapi kejadian yang gue alami bener-bener asli dari kejadian nyata. Terima kasih untuk kamu yang pernah membuat gue terlalu tersenyum saat belajar J

...

Waktu itu, kenaikan kelas. Gue naik ke kelas dua dengan jurusan IPA. Ketika pertama kali masuk sekolah setelah liburan panjang, gue nggak masuk kelas selama satu minggu. Gue menjadi panitia sebuah acara di sekolah, yang diadakan di minggu pertama untuk menyambut adik kelas yang baru masuk.

Didalam susunan panitia acara, ternyata ada beberapa temen kelas gue juga yang menjadi panitia acaranya. Gue tau setelah melihat sehelai kertas putih di ruang panitia. Di kertas itu berisi absen panitia, nama, kelas, dan nomerhandphone masing-masing. Beruntung, nggak ada nomer hape ibu-ibu, pasti udah gue modusin.

Tepat hari sabtu, acara telah berakhir. Selesai acara berlangsung, semua panitia bertugas untuk merapihkan kelas yang telah selesai dipakai. Para peserta banyak yang membuang sampah sembarangan. Di dalam kelas, banyak plastik bekas minuman yang berserakan di atas terpal. Semua harus disapu bersih oleh panitia.

Gue yang kelelahan sudah bekerja dari tadi, beristirahat sebentar, duduk di koridor depan kelas. Pandangan gue melihat sekitar, melihat temen-temen yang lain membersihkan sampah-sampah di dalam kelas, ada juga yang mengeluarkan terpal yang telah dipakai. Terpal tersebut bertujuan untuk melapisi lantai, supaya peserta nggak kedinginan yang duduk lesehan.

Di tengah istirahat, gue teringat sesuatu. Beberapa hari ini gue udah gak masuk kelas karena mengurusi acara, gue takut ketinggalan pelajaran. Gue berniat meminta nomor handphone kepada salah satu temen sekelas. Sebut aja namanya Salsa. Sekarang, dia sedang berdiri sendirian disamping tangga dekat koridor.

"Salsa, gue minta nomer hape lo dong. Jadi, nanti gue bisa nanya-nanya sama lo kalo ada tugas"

Gue menyodorkan handphone gue ke salsa, supaya dia bisa mengetik nomornya di situ.

Temen-temen yang sedang merapihkan kelas, melihat dan mendengar gue bicara ke Salsa dari tadi, mereka menyoraki gue besama "Ciee, ciee, modus tuh modus. Hati-hati pal nanti suka".

Salsa memberi hapenya ke gue sambil malu malu kecoa, "Ini Pal nomernya, belum di save, nanti simpen sendiri aja namanya dikontak."

"Iya, makasih ya sa" gue melihat ke layar handphone, muncul sederet angka. Lalu, gue simpen nomer itu dengan nama 'Salsa'.

...

Ketika satu minggu pertama gue nggak masuk kelas, ternyata banyak guru yang masuk dan memulai perkenalan dengan murid-murid. Ada juga yang langsung memulai memberikan materi pelajaran.

Dari semua guru yang masuk kelas, ada satu guru yang menyuruh membuat kelompok untuk praktek, guru ini terkenal paling killer di sekolahan, guru biologi. Konon katanya, kalau nggak ngerjain tugas dari dia, lo bakalan kencing selama dua hari dua malem tanpa berhenti karena ketakutan. Mengerikan. Satu kelompok terdiri dari empat orang dan harus terdapat laki-laki dan perempuan. Nanti, setiap ada praktek biologi, kelompok ini akan selalu tetap sama selama satu tahun.

Karena di minggu pertama gue nggak masuk kelas, gue digabungkan dengan kelompok yang nggak masuk kelas juga. Di dalam kelompok itu ada satu orang yang familiar di kepala gue. Salsa, orang yang gue minta nomer hapenya sabtu lalu di koridor depan kelas.

Pernah suatu ketika, guru biologi keluar dari kelas ada keperluan, lalu menyuruh muridnya untuk mempersiapkan presentasi sesuai dengan kelompoknya. Semua murid langsung sibuk untuk menghafalkan materi presentasi kelompoknya masing-masing, Semua murid takut, seandainya nggak bisa menjelaskan presentasi dengan bagus di depan kelas, nanti akan dibacok dari belakang oleh guru biologi.

Salsa, duduk di sebelah gue menghafalkan materi dari laptop. Sedangkan gue sibuk menyalin materi dari laptopnya Salsa ke buku tulis. Dua anggota kelompok gue yang lain, berpencar mencari tempat yang nyaman untuk menghafal. Yang satu di pojok kelas, dan yang satu lagi di atas genteng. Entah dia mau ngapain.

Kepala gue bulak-balik dari laptop ke buku tulis, lalu ke laptop lagi, ke buku tulis, ke laptop lagi, dan seterusnya sampai Cristiano Ronaldo jago main kelereng.

Ditengah-tengah sibuknya menyalin materi, terdengar suara temen gue yang duduk di depan. Namanya Itsna, dia menengok ke arah gue dan Salsa, lalalu dia bilang, "Pal, kalo gue liat, kayaknya lo cocok sama Salsa deh, serasi banget."

Deg.

Salsa dan gue saling tatap-tatapan mata sementara. Lalu, kita kembali lagi ke pekerjaan masing-masing.

...

Suatu hari ada pelajaran Bahasa Inggris di kelas. Materi yang disampaikan mengenai dialog tentang cinta-cinta-an. Tentunya dialog tersebut untuk sepasang, cowok dan cewek. Nggak mungkin cowok sama cowok, nanti jadinya malah hombreng. Pasangannya dipilih secara acak. Caranya : Setiap murid disuruh mengambil kertas yang digulung di dalam topi. Kertas tersebut berisi angka yang berpasangan. Nanti, angka yang sama sama, menjadi satu pasang.

Gue ambil kertas di dalam topi tersebut. Setelah itu, orang yang membawa topi di tangannya kembali berpindah ke orang lain untuk menyodorkan topi lagi. Nggak tau kenapa, perasaan gue kayak aneh gitu. Terutama pada saat Guru Bahasa Inggris menyebutkan angka. Ketika nomernya disebutkan, murid yang memegang nomer itu harus mengangkat tangannya.

Ada feel di dalem hati gue, ‘Kayaknya sepasang sama Salsa nih’. Kalimat itu selalu terulang di dalam benak kepala gue. Terus menerus sampai guru bahasa inggris menyebutkan angka berikutnya.

“Delapan belas !”

Gue mengangkat tangan dengan kertas di tangan. Kertas tersebut gue himpit antara telunjuk dan jempol. Keringet dingin. Pandangan gue menyapu bersih dari depan kelas hingga ke ke belakang. Ada satu tangan juga yang mengangkat tangannya ke atas. Cewek yang dari tadi gue pikirkan di dalam otak. Dia memandang mata gue dengan tersenyum. Salsa.

Semua pasangan duduk berdampingan, menghafal dialog yang disuruh untuk maju ke depan. Jujur, bahasa Inggris gue kurang banget, apalagi dalam menghafal. Ternyata Salsa juga sama. Mati aja deh berdua. Tapi walaupun kurang jago, kita tetep berusaha untuk menghafal.

Kita berdua duduk berhadapan. “Dou you love me ?” Salsa bertanya ke gue. Mengucapkan dialog yang ada di papan tulis.

“Yes.”

“Are you sure ?”

“Yes, I’m sure. I love you because you are the sweeties in the world”

Gue senyum. Entah kenapa ada perasaan yang menjalar dari bawah kaki sampai ke ubun-ubun setelah gue mengucapkan kalimat itu. Ucapan dari mulut gue terlihat tulus. Gue baru pertama kali mengucapkan kalimat itu ke cewek. Kalimat yang artinya gue gak tau sama sekali.



Beberapa hari setelah kejadian-kejadian sebelumnya, gue jadi makin deket sama Salsa. Kita berdua juga jadi lebih sering satu kelompok di setiap pelajaran. Terus juga, entah kenapa setiap gue ada di deket dia, ada rasa di dalam hati yang susah dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin rasa suka.

Begitu juga dengan Salsa. Gue bisa melihat dari bola matanya. Tatapan matanya berbeda dengan cewek yang pernah gue lihat. Dia sepertinya mempunyai rasa yang sama dengan gue. Rasa suka. Entah kenapa gue bisa tau, mungkin ini insting gue sebagai mahluk hidup ke lawan jenis.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan gue lewati dengan tidak mengungkapkan perasaan sama sekali. Gue bukan orang yang mudah menyatakan perasaan ke orang lain, apalagi dalam hal cinta.

Pernah sekali, gue ngungkapin rasa suka ke seseorang, tapi nggak nembak sama sekali, karena gue belum mau pacaran. Ternyata orangnya mempunyai perasaan yang sama juga. Setelah kejadian itu, bukannya semakin deket, gue sama cewek itu malah semakin menjauh, seolah nggak kenal satu sama lain. Gue nggak pengin itu terulang kembali. Jadi, perasaan ini hanya gue simpen sendiri.

Terkadang, kalau gue lagi bosen mendengarkan guru menjelaskan materi di dalam kelas, gue mirip sinetron FTV gitu. Gue iseng melihat Salsa dari kejauhan. Terus, kalau dia menatap balik, gue langsung melihat ke arah lain, pura-pura melakukan suatu kegiatan ekstrim, salah satunya ngupil pakai jempol kaki.

Kalau Salsa, dia pernah melakukan hal yang mungkin menurut dia biasa, tapi menurut gue itu spesial banget. Waktu itu, gue dateng ke sekolah, masuk ke kelas. Di dalam kelas hanya ada satu orang cewek yang baru dateng, Salsa. Dia duduk di bangku belakang bagian tengah. Dia sedang menyapu kelas yang kotor.

Gue langsung duduk di tempat biasa. Tempat duduk gue nggak jauh dari Salsa, hanya dua meter di sebelah depan kirinya. Atau supaya lebih mudah mengerti, diagonal di sebelah kirinya. Nggak ngerti ? Yaudah nggak usah dipikirin, nanti pusing.

Saat gue duduk di kursi, dia ngomong, “Rambut Nopal udah panjang ya ? Cukur tuh, nanti jadi berantakan loh.”

Kalimat yang simple. Mungkin kalau yang mengatakan kalimat ini orang lain, biasa aja. Tapi ini Salsa. Orang yang gue suka. Begitu perhatiannya dia memerhatikan bagian detail gue,  yang bahkan diri gue sendiri jarang memerhatikannya. Ketika mendengar kalimat itu langsung dari bibirnya, gue langsung mau terbang. Tapi sayangnya nggak punya sayap.



Gue inget pertemuan paling mengesankan antara gue dan Salsa. Saat itu pertemuan terakhir. Ketika acara perpisahan sekolah yang diadakan di dalam gedung. Salsa menggunakan kebaya merah dengan kerudung yang menutupi rambutnya. Make-up yang membaluti wajahnya juga membuat dia lebih cantik daripada biasanya. Gue melting ngeliatnya. Tapi gue pura-pura biasa aja. Seolah nggak ada yang berbeda.

Acara demi acara gue nikmati dengan seksama. Mulai dari pembukaan acara perpisahan, band dari perwakilan kelas, sampai pemutaran film dokumenter yang berdurasi satu jam. Di dalam film dokumenter itu, ada cuplikan video gue sedang sedang bernyanyi One Thing dari One Direction. Suara gue terdengar sangat false, bisa memecahkan gendang telinga yang mendengarnya. Otomatis penonton semua tertawa. Gue nunduk ke bawah, harga diri gue jatuh.

Nggak terasa acara pun berakhir. Di moment-moment seperti ini, mereka para murid yang yang lulus, berfoto bersama dengan teman-temannya sebagai kenangan terakhir sebelum berpisah. Gue juga diajak foto bareng rame-rame. Beberapa kali foto berdua dengan cewek temen sekelas. Tapi di dalam hati gue, masih ada yang janggal. Gue belum foto sama seseorang.

Mata gue memandang seluruh area di dalam gedung, mencari seseorang. Orang yang gue cari tidak terlihat. Beberapa orang sudah lalu-lalang keluar gedung, dan sisanya masih ada di dalam untuk berfoto bersama. Mungkin dia sudah pulang.

Gue duduk di salah satu bangku, menatap kosong ke arah panggung. Bangku-bangku sudah mulai dirapihkan sama adik kelas yang menjadi panitia perpisahan. Sampah-sampah yang berserakan diangkat dan dibuang ke tempat sampah. Tatapan mata gue lesu, melamun. Salah satu harapan gue untuk berfoto dengan seseorang pun pupus.

Tiba-tiba di tengah melamun, ada seorang cewek yang menepuk pundak gue dari belakang. Gue seneng, mengira yang menepuk adalah seseorang yang gue cari dari tadi. Ternyata saat kepala gue menoleh ke belakang, hanya temen kelas biasa. Gue tersenyum terpaksa menghadap kamera, lalu duduk kembali.

Beberapa saat kemudian, ada seorang cewek (lagi) ngomong dari arah belakang, suaranya terdengar khas di telinga gue, “Nopal foto berdua yuk.” Hati gue seneng, nggak salah lagi, ini suara seseorang yang gue cari tadi.

Kepala gue menghadap ke belakang. Iya, bener, dia orang gue cari. Mukanya tersenyum, menunggu jawab dari gue mau foto berdua atau tidak. Ternyata dia lebih cantik jika dilihat dari dekat. Aroma parfumnya sangat pas di hidung, tidak terlalu pekat, tidak terlalu samar. Gue menjawab dengan semangat, “Ayuk.”

Akhirnya salah satu impian gue berfoto bareng dengan dia kesampaian juga. Gue tersenyum tulus ke arah kamera, dia pun juga. Seumur-umur gue belum pernah sedeket dan sebahagia ini dengan dia. Gue berfoto berdua sama Salsa.



Dari awal pertama kali gue suka sama Salsa, gue belum pernah bilang, ‘Aku suka kamu’, ‘Aku sayang kamu’, maupun ‘Aku cinta kamu’. Menurut gue, kalau kita suka sama seseorang, nggak harus selalu diucapkan dengan kata-kata.


Kita sekarang udah berpisah, dia sekarang kuliah di Universitas Indonesia, sedangkan gue di Politeknik Negeri Jakarta. Sampai sekarang, gue masih belum tau perasaan dia ke gue  sewaktu SMA bagaimana. Dan mungkin, dia juga gak tau perasaan gue dulu ke dia bagaimana. Mungkin inilah yang dinamakan Jatuh Cinta Dalam Diam. Sama-sama tidak tahu, tapi mempunyai rasa yang sama.