Header Ads

Belajar dari Copet

Belajar bisa kita dapatkan dari mana saja. Pengetahuan khusus atau pengetahuan biasa juga bisa didapatkan jika kita peka terhadap
sekitar. Namun, pernah kah anda berfikir, suatu pembelajaran bisa kita dapatkan dari orang yang tidak layak diteladani atau dipelajari. Tidak layak dalam hal ini disebabkan suatu pandangan social, karena dia melanggar etika dan peraturan hokum.

Kemarin, saya mengikuti suatu materi di kampus. Karena kami baru saja masuk semester genap, kami hanya berbincang sedikit di kelas
membicarakan tentang liburan, namun masih menyerempet ke materi walaupun sedikit. Dalam perbincangan tersebut kami membicarakan banyak hal, mulai dari berita yang geger belakangan ini seperti Kalijodo, Bom Sarinah, Gafatar, dan sebagainya yang hangat-hangat. Tapi di dalam perbincangan kami tersebut, dosen tersebut berbicara mengenai pengalaman seseorang yang meliput pencopet. Dia menceritakan
kalau sistem kerja pencopet itu cukup rapih dan seperti suatu
perusahaan marketing dan lain sebagainya yang memakai strategi. Apa saja kah itu? Cekidot :

1.Pencopet Memiliki Kode

Seorang pencopet tidak akan sembarangan dalam beraksi. Kode-kode khusus diciptakan agar dapat melancarkan aksinya. Mulai dari kode tangan hingga bagian tubuh lainnya. Biasanya setelah terjadi atau bahkan sebelum terjadi pencopetan.

2.Strategy Menghilangkan Jejak

Strategi ini dipakai setelah terjadi pecopetan. Seorang pencopet akan
bekerja sama dengan rekan-rekannya untuk membuang dompet yang sudah kosong isinya. Biasanya pencopet akan mengambil duitnya terlebih dahulu, baru membuang dompetnya entah di sembarang tempat atau di tempat khusus.

3.Tempat Khusus

Tempat khusus pembuangan dompet juga di rahasiakan namun ada. Jadi fungsi tempat pembuangan ini agar keuntungan yang oknum dapatkan lebih maksimal. Caranya? Dengan mengembalikan dompet yang sudah di buang tersebut namun dengan meyakinkan korban bahwa dompet tersebut ditemuinya di jalan dan pelaku (oknum) hanya berniat
mengembalikkannya. Darimana untungnya? Ya, manusia adalah mahluk social dan cenderung saling tolong menolong, jadi jika korban
dikembalikan dompetnya, dia akan mengucapkan terimakasih dan
kemungkinan besar memberi uang “rokok” kepada penemu dompet tersebut.

4.Pencopet Berlatih

Tidak ada keahlian yang tidak dilatih. Seorang pencopet terus berlatih untuk mendapat keterampilannya tersebut. Bahkan, dia akan menghabiskan 5 jam sehari hanya untuk berlatih mencopet. Apa saja yang dilatih?
Kelenturan tangan, insting yang kuat, pengelihatan, dan lain sebagainya yang mendukung jalannya proses mencopet.

Dari penjabaran di atas kita dapat mengangkap bahwa mereka sungguh baik dalam merencanakan sesuatu. Seperti layaknya suatu perusahaan, mereka bekerja dengan rapih dan pintar melihat peluang. Dari copet itu juga kita bisa belajar, jika kita tekun berlatih, maka suatu keahlian akan bisa kita dapatkan dan yang past menghasilkan sesuatu. Selain itu, manajemen tempat, proses kerja, dan juga pemasukkan diluar mencopet juga dipikirkan dengan matang.

Penulis hanya ingin menyampaikan. Belajar lah dari pencopet, mereka
saja menghabiskan 5 jam waktunnya untuk berlatih, namun kita sering kali malah malas berlatih dan akhirnya lamban dalam belajar. Coba lah seperti pencopet, tekun dan sabar, jika waktunya berlari maka berlarilah.

No comments